Posted by: mypromisedland | July 8, 2008

Satu Langkah

Pada suatu masa di sebuah negeri penuh misteri, tersebutlah ada seorang pendekar pembasmi kejahatan yang sedang dalam perjalanan menyelamatkan seorang putri nan cantik jelita. Alkisah, sang putri ditawan oleh Raja Tuyul yang sakti mandraguna. Namun aksi ciamik penyelamatan gemilang si pendekar bukanlah inti dari cerita ini.

Setelah meluluhlantakkan posko Tuyul di kaki gunung Pancacela, Pendekar melanjutkan perjalanannya mendaki punggung gunung tersebut. Langkah kakinya terhenti. Di hadapannya terbentang ujung jurang yang terpisah dari bagian gunung yg lain. Angin menerpa keras tubuhnya. Tidak terlihat sebuah jembatan yang bisa membawanya ke ujung seberang. Pendekar terduduk lemas, terlihat bingung menghadapi situasi yang ada. Tampak jelas terlihat puri tempat si Putri ditahan, namun ruang kosong pemisah antara mereka berdua terlalu jauh untuk bisa dilewati, walaupun Pendekar menggunakan Langkah Sutera, ilmu peringan tubuh andalannya. 

Sambil terduduk, Ia berusaha mencari solusi menuntaskan situasi ini. Semakin dalam berpikir, semakin surut keyakinan Pendekar untuk bisa menyelamatkan sang puteri. Tak terasa hari telah berganti namun pendekar belum juga dapat menyeberangi jurang. Akhirnya dia teringat kepada sang Guru. Diambilnya posisi semedi sebagai media berkomunikasi dengan sang Guru. Pendekar memusatkan seluruh inderanya untuk mencapai titik sunyi, titik dimana terjadinya kontak batin antara dia dengan sang Guru. Dalam keadaan lelah dan tanpa semangat, cukup susah bagi dia untuk membawa jiwanya kepada titik sunyi tersebut. Akhirnya dia berhasil mengosongkan pikiran dan menyatu dengan alam. Di dalam kesunyian dan gelap, dia bisa merasakan kehadiran sang Guru di sampingnya. Terjadi dialog di antara Guru dan murid.

Pendekar : “Guru, perjalananku sepertinya sia-sia. Jangankan menyelamatkan puteri, menyeberang ke ujung jurangpun aku tidak mampu.”

Guru : “Jangan kuatir,anakku. Kamu pasti bisa menjadi penyelamat sang puteri.” 

Pendekar : “Namun Langkah Suteraku pun tidak bisa membawaku ke seberang. Dan hal yg tidak masuk akal apabila aku harus turun sampai ke dasar dan kembali mendaki tebing diseberang sana.”

Dengan tersenyum, Sang Guru berkata : “Anakku, ada saatnya dimana ketika menghadapi suatu masalah, fisik dan jiwamu merasa tidak mampu menyelesaikannya. Hal itu alamiah. Aku tahu perjuangan yang telah kamu lakukan untuk menyelesaikan misi muliamu. Yang kamu perlu lakukan saat ini adalah PERCAYA dan YAKINLAH bahwa Aku akan menuntunmu melewati rintangan ini.”

Pendekar : “Tapi langkah NYATA apa yang aku perlu lakukan? Jurang terlalu lebar dan dalam, angin berhembus kencang, dan tenagaku telah terkuras banyak.Ini TIDAK MUNGKIN! 

Guru : “PERCAYALAH dan YAKINLAH bahwa kamu tidak sendirian dalam perjalanan. Berdirilah dan kembali melangkah menyeberangi jurang di depanmu. Serahkan segala kekuatiran dan kebimbanganmu. Mulailah MELANGKAHLAH!”

Mengikuti perintah gurunya, pendekarpun bangkit dan kembali melangkah. Matanya lurus memandang puri Raja Tuyul. Di hadapannya terbentang jurang yang harus dilewatinya. Sedikit keraguan masih tertinggal di hatinya, namun tepat di pinggir jurang sang Pendekarpun mengayun satu langkah awal menyeberangi jurang tanpa dasar…………..DAN TAK TERJATUH!

Terima kasih atas kekuatan hati yang KAU berikan kepada kami untuk mengayunkan satu langkah awal menyeberangi jurang kekuatiran menuju indahnya bersujud di bait suci-MU.

Mazmur 23:3  “Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya”

Advertisements
Posted by: mypromisedland | May 29, 2008

Project yang tertunda (Part 2 of 3)

Kesaksian Vespa 1984

Sudah saatnya kisah ini kuceritakan kepada kalian, supaya kalian dapat lebih memahami tentang arti kasih sayang yang sesungguhnya, melalui sosok Ibu yang merupakan tokoh utama dalam kesaksianku ini.

Ketika kisah ini kutulis, usiaku sudah mencapai angka 24 tahun. Umur yang uzur bagi sebuah kendaraan bermotor. Sepanjang hidupku, aku membaktikan diri kepada sebuah keluarga kecil di ujung barat pulau Jawa. Ketika masih muda dan gagah, aku adalah partner setia bagi Ibu dari keluarga kecil tersebut, yang sangat handal berbagi peran dalam dunia kewirausahaan dan tugas beliau sebagai ibu rumah tangga.

Mari, kuperkenalkan kalian lebih mendalam kepada partner setiaku ini. Beliau adalah istri dari seorang pria yang sampai masa pensiunnya mendedikasikan dirinya pada sebuah BUMN pengolah baja nomor 1 di tanah air. Beliau adalah ibu bagi dua anak lelaki dan seorang anak perempuan yang tumbuh bersama dan menikmati indahnya masa kanak-kanak mereka. Selain itu, beliau juga berperan sebagai pemimpin bagi tiga pekerja sebuah toko kecil yang memanfaatkan garasi mobil sebagai tempat melakukan transaksi jual-beli.

Dari cerita yang kudengar, toko tersebut adalah wujud dari proses pergumulan panjang sang Ibu untuk ikut membantu sang Bapak dalam menopang sisi keuangan keluarga.

Pada awalnya, dengan malu-malu, sang Ibu merintis usaha tersebut dari balik jendela besar yang difungsikan sebagai loket warung kecilnya. Proses jual-beli dipisahkan secara fisik oleh dinding rumahnya. Tidak banyak barang-barang yang beliau jual waktu itu, mengingat keterbatasan dana yang bisa dialokasikan dari pendapatan tunggal sang Bapak. Dengan dukungan penuh dari Bapak, sang Ibu perlahan namun pasti terus mengembangkan usaha retail ini. Dan kelak di kemudian hari, toko kecil tersebut berperan besar mengantarkan ketiga anak-anak sang Ibu meraih gelar kesarjanaan dan menikmati hidup mapan selama masa studi mereka di Jogjakarta.

 Melalui balik jendela, tiap pagi aku memperhatikan sang Ibu melakukan rutinitas pekerjaannya. Begitu banyak aktivitas yang harus dilakukan Ibu untuk mempersiapkan keperluan keluarganya. Bersama sang Bapak, Ibu memulai hari dengan sesi saat teduh dengan membaca Alkitab dan melakukan doa pagi. Yap… Tuhan adalah sumber kekuatan mereka untuk melakukan segala aktivitas di tiap hari.  Aktivitas Ibu dilanjutkan dengan membangunkan karyawan-karyawan toko untuk bersiap-siap memulai kegiatan tokonya. Dan tak lupa, beliau meminta salah seorang untuk memberikan perawatan bagi body dan mesinku. Nikmat rasanya ketika badanku dibersihkan dari debu-debu yang semalaman menumpang tidur di badanku.

Setelah itu, sang Ibu melangkahkan kaki menuju dapur yang terletak di sisi bagian belakang rumah. Di dapur, Ibu mendelegasikan persiapan sarapan pagi bagi seluruh penghuni rumah kepada “kitchen supervisor” (awalnya posisi ini dijabat oleh Yu Sri, kemudian digantikan oleh Yu Nah, dan akhirnya dijabat permanen oleh Bibi).

Ibu melanjutkan langkahnya menuju kamar tidur ketiga anaknya. Si sulung dan si bungsu menempati satu kamar yang terpisah dengan kamar tidur saudara perempuannya.

Pada suatu masa tertentu di tahun 1980an, aktivitas pagi sang Ibu bertambah, yaitu mengantarkan si bungsu melakukan terapi di tepi pantai demi kesembuhan penyakit bronchitisnya. Dengan penuh kesabaran dan keyakinan, sang Bapak dan Ibu membawa si bungsu ke tepi pantai yang berjarak 10 km dari kediaman mereka. Sekembalinya dari pantai, aktivitas Ibu dilanjutkan dengan mempersiapkan keperluan kantor sang Bapak dan keperluan sekolah  bagi anak-anaknya. Barulah setelah mereka berangkat, sang Ibu dapat menikmati sarapan pagi dengan tenang. Setelah meyegarkan diri dengan mandi pagi, sang Ibu mulai bertugas di kedai toko. Konsumen mulai berdatangan. Di hari-hari tertentu, sang Ibu secara rutin mengajak aku berbelanja di pasar. Aktivitas berbelanja tersebut akan kuceritakan lebih detil di bagian lain dari kisahku ini. Kadang kala, Ibu mengendaraiku ke sebuah Bank untuk menyetorkan hasil pendapatan tokonya.

Siang harinya, sebelum sang Bapak dan anak-anak kembali ke rumah, Ibu telah siap menyajikan beberapa hidangan makan siang di meja makan. Waktu setengah jam cukup bagi sang Ibu untuk tidur sejenak. Pukul 1.15 siang, berbarengan dengan sang Bapak kembali ke kantor, Ibu kembali bertugas di toko. Bagi beliau, tokonya adalah tempat yang tepat untuk mengaktulisasikan dirinya. Ada sukacita di setiap aktivitas yang beliau lakukan di tempat usahanya tersebut. Sang Ibu tidak keberatan apabila dipanggil dengan berbagai nama.

“Telur 1 kilo berapa,bu?” 

“Minta cabe kriting 2 ons ya, tante”,

“Bu Kobus, ada rokok Gudang Garam?”,

“Beli batu batere 2 biji,mbak.” ,

“Mbakyu, kula tumbas baygon bakare setunggal nggih.” ,

“Semuanya jadi berapa, bu Hesti?”

Walaupun tak pernah mempunyai waktu untuk menikmati tayangan TV, kecuali Dunia Dalam Berita, sang Ibu bahagia dalam rutinitasnya di toko tercinta. Hari menjelang malam. Di antara kesibukannya mengelola toko, Ibu tetap menjadi tokoh utama dalam membimbing ketiga anaknya menyelesaikan PR atau sekedar mengulang pelajaran tadi pagi. Pukul 9 malam, saatnya menutup dan mengunci pintu toko. Saat itu, waktu dimana sang Ibu menghitung hasil pendapatan sambil mencocokkan dengan catatan penjualan hari ini. Dan, hari pun ditutup sang Ibu dengan melakukan saat teduh sebelum tidur.

Melelahkan bukan? Jauh lebih melelahkan dibandingkan dengan menuturkan kisah ini kepada kalian.

Sesuai dengan janjiku, aku akan mengajak kalian lebih dalam tentang aktivitas kami berbelanja ke pasar. Tiap dua kali dalam seminggu, Ibu mengendaraiku menelusuri jalanan sepanjang 7 kilometer menuju pasar. Pasar yang kotor, berbau, dan becek (walaupun ketika musim kemarau). Sang Ibu tak lupa selalu memakai sepasang sepatu bot tinggi setiap kali mengunjungi pasar. Dengan rela hati, kubiarkan alas sepatu bot mengotori badanku, karena aku tahu betapa perjuangan sang Ibu menjelajahi sudut-sudut pasar yang hiruk-pikuk, kotor, dan berbau. Kadang kala aku harus menunggu selama 3 jam sampai sang Ibu keluar dari pasar itu. Sang Ibu cukup bijak tidak menugaskan aku sebagai kendaraan pengangkut barang-barang belanjaan, beliau melimpahkan tugas tersebut kepada sebuah becak langganan. Seperti yang sudah-sudah, Ibu akan mengarahkan aku menuju ke sebuah toko langganannya di pusat kota. Letak toko tersebut hanya berjarak 1 kilometer dari sekolah dua anak-anaknya yg terkecil. Ibu kembali berbelanja keperluan tokonya di sana. Nampak sedikit lelah pada raut wajahnya, namun gurat lelah itu lenyap seiring dengan kedatangan kedua anak-anaknya. “Ayo Bu, Pulang. Capek neh,” rengek si bungsu sambil mengambil teh kotak dari rak toko. “Bah! Kau tak tahu betapa capeknya ibumu,” gumamku dalam hati. Sang Ibu pun segera menyelesaikan transaksi dengan pemilik toko, dan kamipun beramai-ramai pulang kembali ke rumah. Kedua bocah itu tak henti-hentinya berbicara sepanjang jalan, namun bagiku, perjalanan rutin ini adalah perjalanan yang menyenangkan. Sayang tidak ada kecanggihan teknologi handycam yang bisa kami gunakan untuk merekam setiap perjalanan rutin kami waktu itu.

Namun tidak semua perjalanan kami diisi hal-hal yang menyenangkan. Tercatat satu kejadian yang terekam kuat dalam ingatanku.

Di suatu siang, aku lupa tanggal tepatnya, setelah menjemput dua bocah nakal, sang Ibu mengendaraiku menuju rumah. Masih teringat ketika si bungsu meminta haknya untuk sekali-kali duduk di paling belakang,namun sang kakak perempuan menolak tegas tuntutan sang adik. Perjalanan kamipun dibisingkan oleh omelan ketidakpuasan si adik. Dengan tetap tenang, sang Ibu mengambil rute yang biasa kami lalui. Ketika berbelok memasuki daerah Sumampir, tiba-tiba roda depanku kehilangan keseimbangan. “Tumpahan oli!!”, pekikku. Tangan sang Ibu tidak cukup kuat mengendalikan gerakan stangku. Dan… BRUUUKK!! Aku tersungkur mencium aspal.

“Ya TUHANku!! Asti, Toro !! Kalian tidak apa-apa??” teriak sang Ibu menghampiri kedua anaknya dan memeluk mereka. Terlihat kepanikan di wajahnya ketika memeriksa keadaan anak-anaknya. “Puji TUHAN! kalian selamat.” ucap sang Ibu setengah berdoa. Dari posisiku, dapat kulihat beberapa tetes airmata sang Ibu jatuh mengenai kepala si bungsu. “Untung tidak ada mobil di belakang kita. Terima kasih TUHAN!”, sambung sang Ibu. Walau sempat terbesit rasa kesal karena keberadaanku untuk sementara diabaikan, aku terharu melihat betapa perhatiannya sang Ibu kepada anak-anaknya. Betapa rasa takut kehilangan terlihat jelas pada raut wajahnya. Kamipun melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan aku berusaha menyampaikan pesan kepada si bungsu dan kakaknya, walaupun aku tahu mereka hanya mendengar suara berisik dari knalpotku. “Kalian mempunyai Ibu yang begitu menyayangi kalian. Tolong jaga hatinya dan rawatlah beliau di masa tua” ucapku berkali-kali sepanjang perjalanan.

 Demikianlah kisahku tentang sosok sang Ibu. Semoga setelah membaca kisahku ini, kalian dapat lebih menghargai jasa-jasa para ibu.

 

Salam hormat untuk sang Ibu Hesti Prasetyo

Vespa 1984

Posted by: mypromisedland | May 26, 2008

Project yang tertunda (Part 1 of 3)

Didedikasikan untuk sepasang manusia yang oleh-Nya aku dititipkan di muka bumi ini.
“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi tidak dilakukannya, maka ia berdosa.” (Yakobus 4:17)
Tulisan ini sebenarnya adalah bagian dari project tak terwujud di bulan April 2008 lalu. Namun seperti yang tertulis pada ayat di atas; perkenankan saya, melalui tulisan ini, untuk tidak melakukan dosa dengan mendokumentasikan memori-memori yg masih berada di dalam otakku tentang kasih nyata yang telah dipancarkan oleh kedua orangtuaku.

Diawali oleh sang Bronchitis….
Bronchitis ngamuk
TESTIMONIAL SANG BRONCHITIS
Aku sebenarnya enggan untuk menceritakan kembali kisah ini. Kisah dimana aku, pada saat itu, terpaksa melewati hari-hari dengan penuh penderitaan dan kesesakan. Namun, atas dasar rasa hormat kepada mantan musuhku, maka aku akan menuturkan kisah ini kepada kalian.
Beberapa puluh tahun yang lalu, aku pernah memiliki tempat tinggal yang nyaman di dalam tubuh bocah kecil gendut. Entah kenapa, sejak kehadiranku, sang bocah tersebut harus selalu menghela nafas dalam-dalam setiap 2 menit. Mungkin karena tiang pancang rumahku terlalu dalam menempel di saluran pernapasannya sehingga menimbulkan rasa gatal di tenggorokannya. Ah….mana kupeduli soal itu. Mari kita lanjutkan kisah ini kembali..
Si Bocah gemar sekali meminum es teh manis di setiap waktu makannya. “Kegemaran sang bocah terhadap es dan ditambah kesibukan orangtuanya, aku yakin hunianku ini akan menjadi tempat tinggal permanen bagiku”, ucapku sambil mengayunkan palu untuk memperkokoh pondasi rumah. Dan sang bocahpun kembali menghelakan nafasnya dengan susah payah…
Namun, hal berbeda terjadi pada suatu pagi. Pagi yang tidak ingin aku ingat kembali.
Secara tidak sengaja, aku mencuri dengar percakapan sang orangtua di kamar si bocah. Menurut saran dokter, mereka akan melakukan suatu terapi bagi kesembuhan sang bocah. “He..he…he…dijamin tidak akan berhasil”, ujarku dengan mata mengantuk. Waktu baru menunjukkan pukul 5 saat itu. Sang Ibu berusaha membangunkan si bocah. Dengan seribu alasan, si bocah berusaha meminta haknya untuk dapat kembali menikmati tidurnya. Namun, dengan seribu satu jawaban, sang Ibu akhirnya berhasil membuatnya terpaksa bangun dari ranjang. “Apa yang akan mereka lakukan di pagi buta begini”, gumamku penuh keheranan.
Mereka mengendarai mobil pick-up menuju ke arah barat. Ditemani kakak perempuannya, si bocah begitu menikmati angin yg menerpa wajahnya ketika berdiri di belakang kap mobil. “Perasaanku semakin tidak enak…”, ujarku penuh kebingungan.
Semakin mobil bergerak menembus arah barat, tubuhku semakin tidak nyaman. Kediamanku terus dipenuhi dengan udara yang berbeda. Udara yang begitu menyesakkan tubuhku. Badanku semakin lemas.Dengan susah payah aku bergerak menuju lubang hidung si bocah. Udara aneh tersebut semakin kencang menari-nari di sekitar tubuhku. Aku berhasil menapaki ujung hidungnya, dan seketika terbelalaklah mataku melihat pemandangan yang terlihat…. “Aaaargh…LAUT!!”. Aku benci suasana pantai di pagi hari! Dengan kekuatan tersisa, aku memperhatikan sang Orangtua membimbing si bocah melakukan gerakan pernapasan secara perlahan-lahan. Aku merasakan aliran gelombang menyakitkan dari setiap bimbingan dan sentuhan sang Orangtua. Ya, kalian benar. Aku alergi dengan frekuensi gelombang kasih yang mengalir dari Orangtua menuju si bocah. Si bocah menghirupkan nafasnya di setiap terbentuknya titik puncak gelombang tersebut. Titik-titik amplitudo itu bagaikan rangkaian upper-cut dan pukulan jab petinju profesional yang mendarat di tubuhku. Dan akhirnya…akupun tersungkur tak sadarkan diri.
Sejak saat itu, kalian pasti mengerti betapa aku berharap pagi hari tidak akan pernah datang kembali. Namun harapan tinggallah harapan, mimpi hanyalah mimpi…
Dengan penuh kasih sayang, sang Orangtua selalu mengantarkan si bocah menikmati udara pagi di tepi pantai yang berjarak 10km dari kediaman mereka. Dan berbulan-bulan lamanya akupun menderita.
Demi kelangsungan generasiku selanjutnya, setelah delapan bulan sejak pagi terkutuk tersebut, aku memutuskan untuk mencari tempat tinggal yang baru. Dengan menenteng buntelan kain berisi hartaku yang tersisa, aku melangkah keluar dari tubuh si bocah. Aku kalah….., namun setidaknya sang bocah mungkin akan merindukan rasa gatal di lehernya setiap kali aku duduk bersantai di kursi goyangku.
Sebelum meninggalkan tubuh si bocah, kubisikkan sebaris kata pada telinganya, “Bersyukurlah! Karena kamu memiliki orangtua yang begitu menyayangimu.” Dan akupun melompat dari tubuhnya, membiarkan sang angin membawaku ke kediaman yang baru ….

Foot note :
Bronchitis is an inflammation of the large bronchi (medium-size airways) in the lungs. It can lead to pneumonia. Acute bronchitis is usually caused by viruses or bacteria and may last several days or weeks.[1] Acute bronchitis is characterized by cough and sputum (phlegm) production and symptoms related to the obstruction of the airways by the inflamed airways and the phlegm, such as shortness of breath and wheezing. Diagnosis is by clinical examination and sometimes microbiological examination of the phlegm. Treatment may be with antibiotics (if a bacterial infection is suspected), bronchodilators (to relieve breathlessness) and other treatments.
(Source: Wikipedia)

Older Posts »

Categories